Abdi Masada https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM <p>Abdi Masada&nbsp;&nbsp;<a href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1324719833&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener">e-ISSN 2828-2752</a></p> <p>Abdi Masada adalah Jurnal peer neviwo yang digunakan untuk mempublikasikan artikel, menyebarluaskan dan mendesiminasikan hasil kegiatan pengambidan kepada masyarakat.&nbsp; karya yang diterbitkan dalm jurnal ini diakui sebagai karya hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat dibiang Keperawatan, Kesehatan Masyarakat, Kebidanan dan Optometri. Jenis artikel yang diterima redaksi merupakan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat,</p> <p>Jurnal ini terbit satukali setahun (Bulan Mei)</p> en-US uppm@stikesdhb.ac.id (Yeti Hernawati) support@stikesdhb.ac.id (Galih Anggara) Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time OJS 3.1.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 DETEKSI DINI DAN PEMERIKSAAN KELAINAN ASTIGMATISME DENGAN METODE CROSS CYLINDER DI RT 001 RW 022 PONDOK UNGU PERMAI BEKASI https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/132 <p>Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab gangguan penglihatan yang umum terjadi di masyarakat dan sering kali tidak terdeteksi sejak dini. Salah satu jenis kelainan refraksi yang membutuhkan teknik pemeriksaan khusus adalah astigmatisme, yang dapat menyebabkan penglihatan kabur atau berbayang pada semua jarak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini dan pemeriksaan kelainan astigmatisme menggunakan metode <em>cross cylinder</em> di wilayah RT 001/RW 022 Pondok Ungu Permai, Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Metode <em>cross cylinder</em> dipilih karena memiliki akurasi tinggi dalam menentukan silinder subjektif pada pasien dengan astigmatisme. Pemeriksaan dilakukan terhadap 103 orang klien dengan berbagai usia. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dari 103 klien yang diperiksa, ditemukan kelainan refraksi dengan proporsi terbanyak adalah hipermetropia (22,33%), diikuti oleh astigmatisme (20,81%), dan miopia (10,19%). Selain itu, sebanyak 93 klien (90,29%) terdiagnosis presbiopia, dan 3 klien (2,91%) diduga mengalami kelainan organik berupa katarak. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun fokus utama kegiatan adalah pada astigmatisme, proporsi kelainan refraksi lain dan kelainan organik juga signifikan dan perlu mendapatkan perhatian. Kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam mengenali kondisi penglihatan mereka dan mendorong tindak lanjut pemeriksaan lebih lanjut ke fasilitas kesehatan mata. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan mata masyarakat.</p> Nuraisah Nuraisah, Arief witjaksono, Nurwidianto nurwidianto, Irfan Abdussalam, Gina Mardiatul Karimah, Firman Saepulloh ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/132 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PENINGKATAN AKSES KESEHATAN MATA DENGAN PROOGRAM PEMERIKSAAN REFRAKSI DAN PEMBERIAN ALAT BANTU REHABILITASI PENGLIHATAN KACAMATA DI KELURAHAN WAE KELAMBU, KECAMATAN KOMODO PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/133 <p>Penurunan kualitas penglihatan akibat kelainan refraksi, seperti miopia, hipermetropia, astigmatisme, dan presbiopia, merupakan masalah kesehatan yang sering ditemui di berbagai kalangan masyarakat. Di Kelurahan Wae Kelambu, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, akses terhadap pemeriksaan mata dan alat bantu rehabilitasi penglihatan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mata melalui program pemeriksaan refraksi dan pemberian kacamata. Kegiatan ini dilakukan untuk mengidentifikasi prevalensi kelainan refraksi dan memberikan intervensi berupa kacamata sebagai alat bantu penglihatan. Program ini dilaksanakan di wilayah Kelurahan Wae Kelambu yang melibatkan 777 orang peserta, dengan hasil pemeriksaan refraksi menunjukkan bahwa 340 orang memiliki emetropia, 164 orang menderita miopia, 31 orang mengalami hipermetropia, 8 orang menderita miopia astigmatisme, dan 100 orang mengalami presbiopia. Sebanyak 277 orang menerima kacamata, sementara 288 orang tidak mendapatkan kacamata, sebagian besar di antaranya memiliki penglihatan normal atau kelainan refraksi yang tidak dapat ditangani dengan kacamata. Hasil kegiatan ini menunjukkan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan mata rutin, serta perlunya upaya lebih lanjut dalam meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan mata di daerah terpencil. Berdasarkan hasil ini, disarankan untuk memperluas program penyuluhan dan layanan kesehatan mata di daerah terpencil guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pencegahan dan pengelolaan kelainan refraksi yang tepat.</p> Motris Pamungkas, Felisiana nalut, Ade Rachmatulloh, Nopia Siti Nurazizah, Riani Novitasari ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/133 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PENINGKATAN PENGETAHUAN LANSIA TENTANG HIPERTENSI MELALUI MEDIA POWER POINT DI GKP KATAPANG KABUPATEN BANDUNG https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/134 <p>Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang sering terjadi pada lanjut usia. Hipertensi juga merupakan salah satu penyebab kematian yang sering terjadi pada lansia. Penyebab terjadinya hipertensi antara lain usia, genetik, gaya hidup, tinggi kolesterol, merokok, kurang aktifitas olah raga. Prevalensi lansia yang menderita hipertensi semakin meningkat,hal ini dapat disebabkan salah satunya yaitu kurangnya pemahaman lansia mengenai hipertensi dan pencegahannya. Tujuan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan mensosialisasikan penyakit hipertensi. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat yaitu ceramah tanya jawab dan menggunakan media <em>power point</em>, kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di desa Katapang, waktu kegiatan yaitu selama 1 bulan, jumlah peserta yaitu 25 orang yang terdiri dari lansia. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini terbagi menjadi tahapan pre test, pemberian materi, post test dan pemeriksaan kesehatan dengan melakukan pemeriksaan tekanan darah. Hasil dalam kegiatan pengabdian maasyarakat berdasarkan analisis perhitungan paired t test bahwa ada pengaruh pemberian penyuluhan kesehatan terhadap pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan kesehatan dengan nilai alpha yaitu 0,000 (&lt;0,005). Rekomendasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini yaitu diharapkan petugas kesehatan dapat berperan dalam memberikan informasi atau penyuluhan tentang hipertensi pada lansia atau pun keluarga lansia secara kontinue Bagi lansia dan keluarga lansia, di harapkan dapat menjaga pola hidup yang sehat agar status kesehatan dapat meningkat.</p> Liliek Fauziah, Ria Angelina, Anni Sinaga, Juliyanti Juliyanti, Berlyna Damayanti Saragih, Sari Sarce Andriana ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/134 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time DETEKSI DINI GANGGUAN PENGLIHATAN BINOKULER DAN PENYULUHAN PEMILIHAN LENSA TEPAT BAGI SANTRI PESANTREN SIRNARASA KABUPATEN CIAMIS https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/136 <p>Penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan mata di Pondok Pesantren Sirnarasa, Kabupaten Ciamis, dilakukan untuk mengetahui hubungan titik fokus lensa terhadap penglihatan binokuler santri. Kegiatan ini bertujuan untuk mendiagnosis kelainan refraksi serta memberikan pemahaman mengenai pentingnya pemeriksaan penglihatan untuk mencegah gangguan penglihatan lebih lanjut. Data diperoleh dari pemeriksaan refraksi yang dilakukan pada 69 klien santri di Pondok Pesantren Sirnarasa, Dusun Ciceuri, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Hasil pemeriksaan menunjukkan prevalensi kelainan refraksi yang signifikan, dengan astigmatisme sebagai kelainan refraksi yang paling sering ditemukan (31,18%), diikuti oleh miopia (6,52%) dan hipermetropia (4,34%). Selain itu, sebanyak 40,58% santri didiagnosis dengan presbiopia, sementara 5,06% lainnya terdiagnosis suspect kelainan organik, seperti katarak dan ambliopia. Temuan ini menyoroti pentingnya pemeriksaan refraksi dan penanganan kelainan refraksi pada usia muda, terutama dalam konteks penglihatan binokuler. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi pihak terkait dalam menyusun kebijakan kesehatan mata berbasis komunitas untuk meningkatkan kualitas penglihatan santri dan mencegah dampak jangka panjang dari kelainan refraksi yang tidak terdeteksi. Intervensi lebih lanjut melalui penggunaan lensa korektif sesuai dengan titik fokus yang tepat dapat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup santri.</p> Hotman P Simajuntak, Trisno Subekti, Ahmad Solehudin, Andriansyah Fawwaz Ghozi, Ghefira Nurhaliza, Nuri Trisnovianti, Eka Prasetia, Muhammad Zulfikar Kusuma ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/136 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time SKRINING TAJAM PENGLIHATAN DAN KOREKSI PADA ANAK DI LEBAK SILIWANGI KECAMATAN COBLONG KOTA BANDUNG https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/138 <p>Masalah kelainan refraksi masih menjadi salah satu gangguan penglihatan yang umum terjadi di masyarakat, termasuk pada anak-anak dan usia lanjut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan skrining tajam penglihatan dan pemeriksaan refraksi guna mendeteksi dini gangguan penglihatan serta memberikan koreksi yang sesuai. Kegiatan dilaksanakan di Bale Riung RW 008, Jalan Taman Hewan, Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Sebanyak 73 orang klien berpartisipasi dalam kegiatan ini. Metode yang digunakan meliputi anamnesis, pemeriksaan tajam penglihatan, pemeriksaan refraksi subyektif dan obyektif, serta evaluasi kondisi okular untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kelainan organik. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kelainan refraksi miopia ditemukan pada 11,64% klien, hipermetropia sebesar 6,16%, dan astigmatisme sebanyak 4,11%. Sementara itu, kasus presbiopia mendominasi dengan prevalensi sebesar 93,15% (68 orang), yang menunjukkan kebutuhan tinggi akan koreksi penglihatan pada populasi usia lanjut. Selain itu, terdapat satu kasus (0,69%) dengan kecurigaan kelainan organik yang perlu dirujuk untuk evaluasi lebih lanjut. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan skrining sangat penting dilakukan secara berkala untuk mendeteksi gangguan penglihatan sejak dini dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui intervensi yang tepat. Program ini diharapkan menjadi model kolaboratif antara institusi pendidikan, tenaga profesional, dan masyarakat dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan mata.</p> Dwi Sekar Laras, Motris Pamungkas, Frisca Maduma, Ipan Maolana, M. Ridwan Aziz Sofyan, Riris Nila Maryana ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/138 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time DETEKSI DINI KESEHATAN PADA LANSIA MELALUI PEMERIKSAAN KESEHATAN DI RT 08 KELURAHAN BABAKAN ASIH KOTA BANDUNG https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/139 <p>Penyakit degeratif merupakan penyakit tidak menular yang sering terjadi pada lansia. Penyakit degeneratif terjadi disebabkan karena adanya proses penuaan pada lansia. Jenis penyakit degeratif antara lain hipertensi, jantung, stroke, gagal ginjal, diabetes melitus, asam urat. Pengendalian penyakit degeratif pada lansia tidak menjadi lebih parah maka penting dilakukannya deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendeteksi sedini mungkin dan mengurangi risiko penyakit atau mengobatinya dengan lebih efektif. Deteksi dini merupakan upaya preventif bagi lansia. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini dengan melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan Kesehatan yang dilakukan antara lain pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan gula darah sewaktu dan pemeriksaan asam urat. Tempat dilakukan pengabdian masyarakat yaitu di balai RT.08 kelurahan Babakan Asih. Jumlah lansia yang mengikuti kegiatan yaitu sebanyak 41 lansia dengan rentang usia 50-78 tahun. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat diperoleh sebanyak 60,9% lansia memiliki hipertensi, 7,3% lansia memiliki gula darah tinggi pada pemeriksaan gula darah sewaktu, sebanyak 29,3% lansia memiliki asam urat tinggi. Dengan adanya deteksi dini kesehatan diharapkan kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat menjadi rujukan bagi&nbsp; lansia untuk memeriksakan lebih lanjut ke pelayanan kesehatan terdekat yaitu puskesmas untuk dapat melakukan pengobatan. Perlu juga dilakukan secara berkala kegiatan deteksi dini ini agar dapat dilihat untuk perubahan perilaku lansia dalam menjaga kesehatannya.</p> Liliek Fauziah, Ria Angelina, Anni Sinaga, Juliyanti Juliyanti, Berlyna D Saragih, Sari Sarce Andriana, Sari Sarce Andriana ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/139 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PENDIDIKAN KESEHATAN PENGGUNAAN GADGET YANG BAIK UNTUK KESEHATAN MATA DI LEBAK SILIWANGI KECAMATAN COBLONG KOTA BANDUNG https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/140 <p>Penggunaan gadget secara berlebihan pada masyarakat dapat berdampak negatif pada kesehatan mata, terutama pada kelainan refraksi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kesehatan mengenai penggunaan gadget yang baik untuk kesehatan mata di Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Bale Riung RW 008 Jalan Taman Hewan, Kelurahan Lebak Siliwangi, yang melibatkan pemeriksaan refraksi pada 73 orang klien. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan adalah miopia (11,64%), diikuti oleh hipermetropia (6,16%) dan astigmatisme (4,11%). Selain itu, diagnosis presbiopia ditemukan pada 68 orang (93,15%), yang merupakan temuan signifikan dalam populasi usia dewasa dan lansia. Hanya 0,69% klien yang menunjukkan kemungkinan kelainan organik pada mata. Melalui kegiatan ini, peserta diberikan penyuluhan tentang pentingnya pengaturan penggunaan gadget dan perlunya pemeriksaan mata secara rutin untuk mencegah atau mengelola kelainan refraksi. Hasil kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak penggunaan gadget yang berlebihan terhadap kesehatan mata, serta mendorong mereka untuk mengadopsi kebiasaan yang lebih sehat dalam penggunaan gadget guna menjaga kualitas penglihatan mereka. Selain itu, kegiatan ini juga memberikan kontribusi dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pemeriksaan mata dan layanan kesehatan yang berkualitas di wilayah tersebut.</p> Jaja Muhamad Jabbar, Anggit Nugroho, Husni Husni, Anrea Wahyudi, Maryati Mian, Nuni Nurmawanti ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/140 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PEMERIKSAAN MATA MENGGUNAKAN METODE DISOSIASI PRISMA DUOCHROME PADA KESEIMBANGAN BINOKULER SANTRI PONDOK PESANTREN BAITUL HIDAYAH https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/141 <p>Keseimbangan binokuler merupakan aspek penting dalam sistem penglihatan yang memengaruhi kualitas penglihatan dan kenyamanan dalam melihat objek secara bersamaan oleh kedua mata. Pemeriksaan keseimbangan binokuler dapat dilakukan menggunakan metode disosiasi prisma duochrome, yang berfungsi mengevaluasi kestabilan fusi binokuler dan keseimbangan akomodasi-konvergensi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Baitul Hidayah, Kabupaten Bandung, dengan sasaran pemeriksaan sebanyak 399 santri. Tujuan kegiatan ini adalah mendeteksi gangguan refraksi serta mengevaluasi keseimbangan binokuler menggunakan metode prisma duochrome pada populasi santri pondok pesantren sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif gangguan penglihatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa kelainan refraksi ditemukan pada 23,5% santri laki-laki, sementara hanya 1,0% santri perempuan yang mengalami kelainan refraksi. Kelainan refraksi paling banyak ditemukan pada kelompok usia 12–16 tahun, dengan prevalensi 16,0%. Jenis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan adalah miopia (14,3%), diikuti oleh astigmatisme (10,3%). Selain itu, hasil pemeriksaan keseimbangan binokuler mengungkapkan bahwa 27,8% santri mengalami ketidakseimbangan binokuler, yang berpotensi memengaruhi kenyamanan penglihatan dan proses pembelajaran mereka. Temuan ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap kesehatan mata di lingkungan pesantren, khususnya dalam melakukan skrining secara berkala. Pemberian koreksi optik yang tepat dan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata sangat dianjurkan, baik untuk santri maupun pengasuh pondok pesantren. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan berbasis komunitas untuk mendeteksi dan menangani gangguan penglihatan pada usia remaja, guna mendukung pembelajaran yang optimal dan kualitas hidup santri yang lebih baik.</p> Arief Witjaksono, Hotman P Simajuntak, A Orbit Mawardi, Nur Ismail, M. Ridwan Aziz Sofyan ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/141 Min, 08 Jun 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PEMERIKSAAN MATA MENGGUNAKAN TENTATIF REFRAKSI DI PONDOK PESANTREN SIRAAJUL UMMAH https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/142 <p>Kelainan refraksi merupakan salah satu penyebab utama gangguan penglihatan yang dapat menurunkan kualitas hidup individu, terutama bila tidak terdeteksi dan tidak tertangani secara dini. Kelompok masyarakat di lingkungan pesantren sering kali tidak mendapatkan akses yang memadai terhadap layanan pemeriksaan mata, padahal aktivitas belajar dan ibadah mereka sangat bergantung pada fungsi penglihatan yang optimal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk melakukan deteksi dini kelainan refraksi dan gangguan penglihatan melalui pemeriksaan tentative refraksi di Pondok Pesantren Siraajul Ummah, Karangrahayu, Kecamatan Karangbahagia, Kabupaten Bekasi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2022 dengan sasaran sebanyak 100 orang yang terdiri atas santri dan pengajar. Pemeriksaan meliputi skrining tajam penglihatan dan refraksi subjektif menggunakan trial lens set dan trial frame. Hasil menunjukkan bahwa 30,5% peserta mengalami miopia, 25,0% mengalami astigmatisme, 10,5% mengalami hipermetropia, dan 42,0% mengalami presbiopia. Sebanyak 4,0% dari peserta terindikasi memiliki kelainan organik mata seperti katarak dan pterygium, yang kemudian dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan. Temuan ini menegaskan pentingnya pemeriksaan mata secara berkala di komunitas pendidikan berbasis pesantren. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan layanan pemeriksaan, tetapi juga edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata dan penggunaan koreksi optik yang tepat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model promotif-preventif kesehatan mata berbasis komunitas dalam meningkatkan derajat kesehatan penglihatan masyarakat pesantren</p> Anggit Nugroho, Motris Pamungkas, Arief Witjaksono, Nurwidianto Nurwidianto, M. Fariz Nur, Nopia Siti Nurazizah ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/142 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time SKRINING PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA MASYARAKAT DI DERMAGA PALABUHANRATU KABUPATEN SUKABUMI https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/143 <p>Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyakit yang tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain dan berkembang secara perlahan-lahan dalam jangka waktu yang lama (kronis). Salah satu Penyakit Tidak Menular adalah Hipertensi dan Diabetes Melitus (DM). Pelayanan kesehatan/ skrining hipertensi tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 4 tahun 2019 dengan melihat faktor risiko perilaku. Di Puskesmas Palabuhanratu, diketahui proporsi cakupan pelayanan Hipertensi sampai dengan bulan Oktober 2023 masih di bawah 10% sedangkan cakupan pelayanan Diabetes Melitus berfluktuatif masih di bawah 16%. Salah satu upaya untuk meningkatkan cakupan layanan PTM khususnya Hipertensi dan Diabetes Mellitus adalah dengan melakukan kegiatan skrining PTM di masyarakat dengan menyandingkan kegiatan tersebut dengan pemeriksaan kesehatan gratis. Kegiatan skrining PTM dilakukan melalui anamnesis dengan menggunakan formulir skrining dari Kementerian Kesehatan. Skrining hipertensi berupa pemeriksaan tekanan darah, namun pada skrining Diabetes Melitus dilanjutkan dengan rapid test. Hasil skrining, jika ditemukan seseorang yang berisiko, segera diteruskan ke Puskesmas setempat.</p> Yeni Suryamah, David Grandisa ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/143 Sen, 09 Jun 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PELATIHAN TRIASE UNTUK MASYARAKAT DALAM UPAYA MITIGASI BENCANA https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/144 <p>Keberadaan wilayah dengan lereng dan perbukitan yang curam di Desa Cipanjalu menyebabkan desa ini sering mengalami bencana berupa tanah longsor. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat di Desa Cipanjalu mengenai triase lapangan sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan jumlah peserta sebanyak 15 orang. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini dimulai dari tahap persiapan, sosialisasi dan pelaksanaan dengan metode pemberdayaan dan partisipasi masyarakat melalui ceramah dan tanya jawab dengan bantuan power point dan modul, demonstrasi dan praktek langsung, simulasi bencana serta evaluasi &amp; refleksi. Penilaian kegiatan dilakukan dengan menganalisis hasil kuesioner dan nilai tes dari jawaban peserta yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan untuk aspek pengetahuan, sedangkan untuk aspek keterampilan dengan mengamati hasil pelaksanaan triase lapangan. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa total skor pre test pemahaman peserta terhadap Triage START sebelum dilakukan pelatihan tanggap bencana adalah 211 dan rata-rata 22, sedangkan setelah diberikan pelatihan terjadi peningkatan skor post test pemahaman masyarakat menjadi 1080 dan rata-rata 72, sehingga dapat dilihat peningkatan skor pemahaman peserta pelatihan sebesar 72 atau rata-rata skor sebesar 51,5 point.</p> Oktarian Pratama, Fitriyani Maulana, Zahra Apriliana maudhy ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/144 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time PEMBERIAN TERAPI MINUMAN AIR JAHE DAN MADU PADA TN. A USIA 55 TAHUN DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NAUSEA DAN DIAGNOSA MEDIS KANKER PARU DI RUANG DAHLIA RUMAH SAKIT PARU DR.H.A.ROTINSULU BANDUNG https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/145 <p><em>Lung cancer is a malignant disease that occurs in the lungs. Malignancy can originate from within the lungs or as a result of metastasis from other organs. Based on data on the most common diseases at Rotinsulu Lung Hospital, there were 3744 visits by lung cancer patients between January 2024 – April 2025 was increasing of 6,6% from the previous year. Meanwhile, in the treatment ward there where 1151 visits by lung cancer patients between January 2024-April 2025. A preliminary study was conducted in Dahlia ward recording 348 patients undergoing chemotherapy and it was found that 9 of 15 patients experienced nausea and vomiting. Lung cancer management can be handle by pharmalogical and non-pharmalogical. One of the non-pharmalogical therapies is ginger </em>(<em>Zingiber Officinale</em>) <em>and honey drink therapy. Several journals have proven that giving ginger and honey can reduces nausea and vomiting.</em><strong><em> Objective : </em></strong><em>To determine the effectiveness of non-pharmacological therapy in ginger and honey drink therapy for lung cancer with chemotherapy. <strong>Method : </strong>The design of this scientific paper uses a qualitative descriptive method in the form of a case study. <strong>Results : </strong>Nursing care for seven day effectively reduced the scale of nausea (INVR) from 14 moderate to 8 mild. <strong>Conclusion : </strong>Ginger and honey drink therapy can be used as a non pharmacological therapy to treat nausea in lung cancer with chemotherapy in patients with moderate or mild symptoms.</em></p> Syifa Nurfitriani, Yunita Fitri Rejeki ##submission.copyrightStatement## https://abdimasada.stikesdhb.ac.id/index.php/AM/article/view/145 Jum, 23 Mei 2025 00:00:00 SE Asia Standard Time